Selamat Datang Di Blognya Ozy Shira

Kamis, 21 Maret 2019

PIRAMIDA


PIRAMIDA--- MESIR, bangunan limas yang dibangun pada zaman Mesir Kuno.

Sedikit cerita, pada zaman pra-sejarah, masyarakat Mesir Kuno terbiasa menggali lubang di tengah padang pasir, untuk mengubur manusia yang meninggal. Mereka menanam mayat di tengah padang pasir, karena tanah subur yang berdekatan dengan Sungai Nil, terlalu berharga jika hendak dijadikan sebagai kuburan.

Cuaca di Mesir yang panas dan kering, tentu saja memungkinkan proses pengawetan secara alami. Jika sesuatu ditanam dalam lubang pasir yang kering dengan kelembaban rendah, ia akan mengalami dehidrasi dan awet  secara alami, karena bakteri memerlukan kelembaban untuk membusukkan sel-sel tubuh. Namun, kondisi padang pasir yang sering kali berangin menyebabkan pasir tertiup, sampai akhirnya mayat yang tadinya ditimbun, tampak lagi di permukaan dan menjadi sasaran binatang liar. Karena itulah, orang Mesir Kuno berusaha mencari solusi dari masalah tersebut.

Awalnya, mereka masih menimbun mayat di tengah-tengah padang pasir, hanya saja, mereka membangun sebuah bangunan segi empat di atasnya, agar pasir di pemukaan kuburan tidak terbawa angin. Mereka menyebutnya, “Mustabah”, bangunan berupa susunan batu yang menyerupai rumah satu tingkat tanpa jendela.

Seiring dengan perkembangan zaman, mustabah berubah menjadi lebih canggih. Tidak lama setelah zaman Raja Narmer, orang Mesir Kuno menggali lubang kubur lebih dalam kemudian membangun kamar-kamar mayat didalamnya. Lalu mereka membangun mustabah di atas kubur.  

Kurang lebih 300-400 tahun setelah zaman Raja Narmer, tahta penguasaan Mesir Kuno silih berganti, hingga sampai pada masa Raja Djoser. Pada masanya, seorang arsitek bernama Imhotep memiliki ide untuk meletakkan mustabah yang lebih kecil di atas satu lapisan mustabah. Hal itu dilakukannya hingga enam lapis mustabah. Karenananya, mustabah tersebut dikenal sebagai “Piramid Tangga”. Piraimid ini merupakan bangunan piramid sekaligus bangunan batu pertama pada masa Mesir Kuno.

Beberapa waktu setelah zaman Raja Ddjoser, datanglah Raja Sneferu. Sneferu bercita-cita untuk membangun sebuah piramid yang sempurna, yaitu tidak bertangga seperti yang dibangun oleh Raja Djoser. Maka dimulailah peembangunan “Piramid Meydum”. Namun, percobaan pertama ini gagal. Piramid tersebut terlihat seperti sebuah bangunan yang hampir tegak karena tepinya yang terlalu curam.

Kegagalan tidak lantas membuat semangat Raja Sneferu surut. Ia kembali membangun piramida. Namun percobaan kedua pun gagal. Raja Sneferu mencoba membangun piramida yang sempurna, namun justru bengkok. Hal ini disebabkan oleh retaknya dinding piramid, ketika bangunan tersebut telah mencapai separuh ketinggian. Hal ini menyebabkan piramid tidak stabil. Sehingga, untuk megurangi beban berat, susunan batu sedikit dimasukkan ke dalam, sehingga hasil akhir piramid terlihat bengkok. Kemudian, piramid ini disebut “Piramid Bengkok”.

Dari pembengkokan piramid tersebut, Raja Sneferu dapat menyimpulkan bahwa piramid tidak dapat dibangun di atas pasir karena susunan batu-batunya akan bergerak menjadikannya tidak stabil. Piramid harus dibangun di atas batu. Sampai akhirnya, Sneferu kembali melakukan percobaan. Kali ini, ia berhasil membangun piramid limas yang sempurna, yang  direncanakan akan dijadikan sebagai tempat peristirahatannya . Piramid ini dikenal dengan “Piramid Merah”,  karena ketika piramid terkena sinar matahari, ia  akan terlihat kemerahan.

Setelah penguasaan Raja Sneferu, anaknya yang bernama Khufu  meneruskan cita-citanya. Raja Khufu membangun “Piramid Giza yang Agung” di Giza. Kemudian, Raja Khafre, anak Raja Khufu pun mewarisi kehebatan ayah dan kakeknya. Ia juga membangun piramid, namun, kali ini ia juga membangun Sphinx, sebuah tugu berkepala manusia dan berbadan singa. Piramid Raja Khafre adalah piramid terbesar kedua di Giza, setelah piramid ayahnya. Selanjutnya, ada pula piramid terbesar di Giza yang ketiga, dibangun oleh Raja Menkaure.

Ratusan tahun kemudian, pemakaman raja-raja tidak lagi menggunakan piramid. Raja Tuthmosis I, salah satu raja pada masa pemerintahan Dinasti ke-18, mengetaahui bahwa piramid-piramid peninggalan Kerajaan Tua dan Kerajaan Pertengahan telah digeledah, dan dirampok. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tidak dikuuburkan di dalam piramida, ketika ia wafat. Ia memilih sebuah  tempat kering kerontang bernama “Lembah Raja-Raja”.

Al Hafiz, Afareez Abd Razak. 2012. Misteri  Firaun Musuh Para Nabi: Menyingkap Tabir Peradaban Paling Berpengaruh Sepanjang Zaman. Jakarta: Zaytuna.

Rabu, 04 Juli 2018

TERPESONA PADA AL-QUR'AN, ILMUWAN MASUK ISLAM


(1) Prof. Dr. Maurice Bucaille

   Prof. Dr. Maurice Bucaille, ahli bedah Prancis yang lahir pada 19 Juli 1920, memutuskan untuk masuk islam pada 1975. Keputusannya ini diambil setelah beliau sukses melakukan penelitian terhadap mumi Fir'aun. Analisis akhirnya menyimpulkan bahwa sisa-sisa garam yang terjebak dalam tubuh Fir'aun merupakan bukti diambilnya tubuh Fir'aun dengan cepat setelah tenggelam. Dengan rasa penasarannya akan penemuan tersebut, Bucaille kemudian memutuskan untuk mempresentasikan penemuannya di suatu konferensi di Arab saudi. Beberapa saat setelah usai presentasi, seorang peserta konferensi membacakan ayat Al-Qur'an (QS. Yunus :92) yang sukses menyentuh dan menggetarkan hatinya, hingga akhirnya, beliau menyatakan keislaman dirinya. 

(2)  Jacques Yves Cousteau

Jacques Yves Cousteau, seorang ahli oseanografi asal Prancis yang lahir pada 11 Juni 1910 menyatakan keislamannya usai menemukan fenomena aneh saat penyelaman. Beliau menemukan sebuah sungai di dasar laut, dimana air tawar dan air laut sama sekali tidak tercampur. Hal ini membuatnya terdorong untuk mencari tahu dan menyampaikan penemuannya kepada Prof. Maurice Bucaille. Hatinya pun meleleh setelah mendengar pembacaan sebuah ayat Al-Qur'an (QS. Al- Furqon: 53)sebagai jawaban dari rasa penasarannya.



(3) Dmitri Polyakov

"ini agama, dan ini ilmu pengetahuan (sembari menunjukkan tangan kiri dan kanannya secara terpisah). Artinya, keduanya tidak dapat berdampingan. Jika saya ilmuwan, saya harus jauh dari agama. Jika saya agamawan, saya harus jauh dari ilmu pengetahuan. Tetapi, dalam islam, agama dan sains bisa berdampingan. Itulah sebabnya saya masuk islam", ungkapnya dalam sebuah wawancara dalam program Jazirah Islam dengan tajuk Islam di Ukraina, ed. 30 Juli 2013.

Dmitri Polyakov, seorang ahli Fisika Ukraina, memeluk agama Islam karena hasil penelitiannya yang menakjubkan. Ia meneliti tentang pergerakan bumi yang dipengaruhi oleh daya magnet bumi. Berdasarkan hasil penelitiannya, dia berhasil membuktikan bahwa posisi kutub utara dan kutub selatan bumi selalu mengalami pergeseran. Dengan demikian, akan ada suatu masa dimana Kutub utara dan selatan bertukar tempat, sehingga rotasi bumi akan berputar ke arah yang berlawanan. Saat itulah, matahari akan terbit dari barat. Hal ini membuktikan bahwa hadits Nabi Muhammad ("Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya"-HR. Muslim & Abu Hurairah) adalah suatu kebenaran. Karena itu, ia bertaubat dan masuk islam.

Tika, Moh. Pabundu. 2017. Bukti Kebenaran Al Quran dalam Fenomena Jagat Raya dan Geosfer. Jakarta: Amzah.

Salatiga, 5 Juli 2018, 11: 45
OZY SHIRA


SEJARAH ISLAM YANG HILANG

SEJARAH ISLAM YANG HILANG
Menelusuri Kembali Kejayaan Muslim Pada Masa Lalu

Firas AlKhateeb, seorang Peneliti Sejarah Islam di Universal School, Bridgeview, Illinois serta pendiri Situs Jaringan Lost Islamic History telah menyelesaikan penulisan buku ini. “Sejarah Islam yang Hilang: Menelusuri Kembali Kejayaan Muslim Pada Masa Lalu” merupakan buku hasil terjemahan dari “Lost History: Reclaiming Muslim Civilisation from The Past”, terbitan Hurst & Company pada tahun 2014. Buku ini diterjemahkan oleh Mursyid Wijanarko, yang kemudian disunting oleh Eka Saputra dan Nurjannah Intan. Buku terjemahan yang tersusun atas vii + 300 halaman ini dicetak pertama kali pada Maret 2016 oleh Penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta, yang kemudian disusul dengan cetakan kedua pada September 2016.
Mengingatkan kembali pada mata pelajaran sejarah di Madrasah Tsanawiyah, bagian awal goresan Firas Alkhateeb ini memaparkan kehidupan Arab Pra Islam dan kehidupan umat di bawah pimpinan Rasulullah. Selanjutnya, dengan bahasa yang tergolong mudah dipahami pembaca, Firas menuliskan secara singkat kiprah para khalifah usai sepeninggal Rasulullah.
Abu Bakar sebagai Khulafaur Rasyidin pertama berhasil menstabilkan keadaan negara sebelum wafatnya. Disusul khalifah yang kedua, Umar bin Khattab yang sukses mengubah negara islam muda yang mulanya terdiri dari masyarakat perampas di gurun menjadi sebuah kekuatan regional. Keberhasilan tersebut diraihnya, setelah 10 tahun masa kekhalifahan. Tentu saja, sebelum pemimpin yang luar biasa itu dibunuh oleh tangan seorang budak Persia.
Selanjutnya, Utsman bin Affan yang melakukan pembangunan armada angkatan laut pertama dalam sejarah islam demi menggagalkan setiap serangan balik Byzantium, adalah khalifah ketiga. Namun, nasib akhir beliau pun tak jauh beda dengan khalifah sebelumnya. Utsman wafat lantaran dibunuh oleh pemberontak, saat beliau tengah membaca Kalam-NYA. Kemudian, Ali bin Abi thalib terpilih menjadi penggantinya. Kepemimpinan Ali juga tak bertahan terlalu lama. Dampak peristiwa pembunuhan Utsman, terbawa hingga akhir kekhalifahan Ali. Hal tersebut mengakibatkan terpecahnya umat. Terbentuklah kelompok pendukung (Syi'ah) dan penentangnya (Khawarij). Hingga berakhirlah masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, dengan meninggalnya Ali ditangan Khawarij, saat beliau sedang menunaikan shalat subuh di masjid di Kufa.
Setelah masa Khulafaur Rasyidin berakhir, tambuk pemerintahan dipegang oleh Muawiyah, sepupu Ali bin Abi Thalib. Kekuasaannya menandai awal Kekhalifahan Umayyah dengan sistem monarchi absolut. Muawiyah menggunakan cara kepemimpinan Arab pra Islam seperti menggunakan hubungan keluarga, kode kehormatan tak tertulis dan hadiah untuk melancarkan jalan politiknya.
Dengan 19 tahun masa pemerintahannya, Muawiyah berhasil mempersatukan dunia islam usai kekacauan pada masa khalifah Ali. Namun demikian, setelahnya, terjadi konflik besar. Hal ini dikarenakan, Muawiyah menunjuk Yazid, anak Muawiyah, sebagai khalifah. Perangai Yazid yang jauh dari gaya hidup orang beriman (karena dia menyukai alkohol, gadis penyanyi, dan kemewahan) membuat beberapa orang seperti Abdullah bin Zubair memberontak. Tidak cukup sampai disini, secara singkat Firas Alkhateeb, menggambarkan masa Bani Umayyah, hingga akhirnya, kekhalifahan diambil alih oleh Bani Abbasiyah.
Masa kekhalifahan Al Ma'mun, khalifah ketujuh Bani Abbasiyah adalah masa keemasan intelektual. Pada masanya, muncul ilmuan-ilmuan muslim yang beberapa dari mereka kini telah tergeser oleh nama-nama ilmuan Eropa.
Matematika adalah ilmu dasar bagi semua ilmu pengetahuan. Dari teori aljabar Muhammad bin Musa Al Khawarizmi, Umar Khayyam mampu memecahkan persamaan kubik dan memformulasikan teorema binomial. Selanjutnya, Al Battani, melalui teori aljabar juga mampu mengembangkan trigonometri dan kalkulus. Ilmu inilah yang kemudian digunakan umat islam untuk menghitung titik koordinat dan arah kiblat suatu tempat dengan tepat. Hasil perkembangan ilmu matematika, kemudian dikembangkan dalam ilmu astronomi, sehingga kita dapat mengetahui gerak planet dan benda-benda langit mengitari matahari.
Selanjutnya, ilmu astronomi dikembangkan menjadi ilmu geografi, yang mampu mematahkan mitos lama bahwa Christopher Columbus menemukan bahwa bumi itu bulat. Tidak hanya ilmu-ilmu tersebut, masa Al Ma'mun benar-benar masa keemasan intelektual. Selain berbagai ilmu dasar tersebut, dikembangkan juga ilmu lain seperti ilmu kedokteran yang melejitkan nama Ibnu Sina yang berkeyakinan bahwa semua hal dalam tubuh dapat dipahami melalui rangkaian sebab akibat. Ada pula ilmu fisika yang menyebutkan nama Ibnu Al Haitsam sebagai penemu Kamera dengan pemanfaatan sifat cahaya. Lalu ilmu fiqih dan hadits yang memunculkan empat madzhab dan beberapa perawi. Dan yang terakhir, dalam bagian ini, Firas menggambarkan kemunculan ilmu Teologi.
Lebih lanjut, dalam buku ini, Firas Alkhateeb juga memaparkan mengenai Kekaisaran OTTOMAN, salah satu hal yang membuat saya merasa tertarik dengan Turki.
Sedikit cerita. Mehmet, yang memdapat sebutan "Sang Penakluk", sukses menaklukkan kota legendaris Konstantinopel. Bahkan, beliau berhasil menjadikan kota tersebut sebagai ibu kota pemerintahan. Saat itulah kekaisaran ottoman berada di puncak dunia islam. Sang penakluk terus memperluas wilayah Ottoman secara militer. Bendera Ottoman berkibar hingga Serbia, Bosnia, Moldova dan Albania. Ekspansi militer tersebut terus dilanjutkan hingga pemerintahan Bayezid II dan Salim I. .
Selanjutnya, hal yang paling menarik adalah mengenai peran religius Ottoman. Kekaisaran Ottoman sebagai negara Islam tak menindas dan menaklukkan penduduk non muslim. Sesuai dengan hukum islam, non muslim diperbolehkan melakukan ibadah berdasarkan agamanya. Selain itu, Ottoman mengizinkan orang kristen dan yahudi membentuk komunitas semi-otonom. Dalam sistem "millet" non muslim diperbolehkan memilih pimpinanya sendiri, yg mewakili mereka dalam pemerintahan Ottoman. Pemimpin ini berlaku sebagai perantara antara Sultan Ottoman dengan berbagai komunitas kepercayaan dalam kerajaan. .
Masa keemasan Ottoman terjadi pada 46 tahun masa kekuasaan Sultan Suleiman, yang dikenal dengan "Kanuni" (Sang pembuat hukum).
Pada bagian terakhir, Firas Alkhateeb menggambarkan mengenai Perang Dunia 1 yang kemudian menyebabkan kematian akhir dari kontrol politik Islam. Ottoman telah ditaklukkan dan dijajah oleh Inggris, Prancis, Rusia, dan Italia. Untuk melawan pendudukan asing, Mustafa Kemal, perwira tentara Ottoman, mengumpulkan rekan-rekan sebangsanya yg terjun dalam Perang Dunia 1. Sampai akhirnya, penjajah dapat diusir pada tahun 1919 dan 1922.
Pada akhir perang kemerdekaan, Mustafa Kemal mengumumkan pembentukan negara baru, TURKI sebagai pengganti Kerajaan Ottoman. Kemal mendapat julukan "Ataturk" yang berarti Bapak Bangsa Turki. Demi menghapuskan masa lalu Islam, Ataturk menghapuskan kekhalifahan Turki yang dipegang Ottoman sejak 1517. 
Pada 1924, khalifah terakhir, Abdulmajid II dipaksa turun tahta dan diasingkan ke Eropa. Ataturk juga melarang pemakaian hijab dan topi fez, menutup komunitas sufi, secara resmi menyatakan syariah tidak berlaku. Hal yang paling parah adalah beliau melarang azan dikumandangkan di menara masjid. Selain itu, huruf arab juga dihapuskan, digantikan dengan mengadopsi huruf latin untuk menulis bahasa Turki. Kosakata serapan dari bahasa Arab dan Persia juga digantikan dengan kosakata kuno Turki dari Asia Tengah. Dari sinilah, berbagai konflik serta peperangan etnis dan agama dimulai.

Alkhateeb, Firas. 2016. Sejarah Islam yang Hilang: Menelusuri Kembali Kejayaan Muslim Pada Masa Lalu. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
(Terjemahan dari : Alkhateeb, Firas. 2014. Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from the Past. Hurst & Company)

Salatiga, 5 Juli 2018, 09:37 am
Oleh OZY SHIRA

KUDETA MEKKAH

KUDETA MEKKAH
Sejarah Yang Tak Terkuak

KUDETA MEKKAH: Sejarah Yang Tak Terkuak, merupakan salah satu buah karya Yaroslav Trofimov, yang diterjemahkan oleh Saidiman dan diedit oleh A. Fathoni. Karya seorang koresponden Wall Street Journal sejak tahun 1999 ini telah dicetak pertama kali pada Maret 2017 oleh PT Pustaka Alvabet, Jakarta. Tersusun atas 350 halaman, dengan ukuran kertas 15 x 23 cm, buku ini memaparkan secara gamblang berbagai kengerian yanng terjadi pada peristiwa bersejarah 20 November 1979 di Kota Suci Mekkah. Setiap rangkaian kalimat yang ditulis, memancing rasa merinding yang tanpa henti.
Pada 20 November 1979, sebuah peristiwa besar terjadi di Kota Suci Mekkah. Sekelompok orang bersenjata yang dipimpin oleh Seorang islamis radikal, Juhaiman Al-Utaibi sukses menduduki Masjid Al- Haram, tepat saat sang imam masjid menutup doa, usai shalat subuh berjamaah. Ribuan jamaah dari berbagai negara menjadi sandera.
Sebagaimana yang tumbuh dalam tradisi Wahhabi, Juhaiman dididik untuk mencari semua jawaban mengenai kejayaan Islam di masa lalu. Karena itu, Juhaiman menggali sedalam- dalamnya sekumpulan kitab hadits, sehingga dia menemukan konsep yang kokoh bagi teologi islam, yakni mengenai kemunculan Mahdi. Ini adalah awal dari pemberontakan tersebut. .
Muhammad Abdullah, adalah mahasiswa berusia 25 tahun, berkulit kuning dan tinggi serta memiliki dahi lebar, hidung mancung, dan memiliki tahi lalat merah besar di pipinya. Ciri-ciri tersebut yang diyakini oleh Juhaiman sebagai ciri seorang Mahdi, sang juru selamat.
Dengan mengaitkan berbagai hal, Juhaiman berusaha meyakinkan Muhammad Abdullah, bahwa dirinyalah Mahdi. Tidak hanya itu, Juhaiman juga mulai meyakinkan para pengikutnya bahwa Imam Mahdi telah datang, sehingga dia mampu menghimpun pasukan pemberontak yang tak sedikit jumlahnya. .
Dalam sebuah pertemuan, Juhaiman berbicara secara terbuka: "Mahdi harus dilindungi dari musuh-musuh keimanan sejati, dan menjadi tanggung jawab kaum beriman untuk memberikan perlindungan ini. Pada saatnya nanti, Masjid Al Haram akan ditaklukkan dengan senjata, dan dipertahankan dengan tentara. Jika kita tidak membawa senjata, tentara itu (musuh) tidak akan datang ke mekkah dan oleh karenanya tidak akan ditelan bumi. Kita tidak akan menembak sampai mereka menembak terlebih dahulu”
Kala itu, 1 Muharram 1400 H bertepatan dengan 20 November 1979 M, para pemberontak yang telah di setir oleh Juhaiman mengambil alih Masjid Al Haram. Sambil menggenggam senjata mesin, Muhammad Abdullah ditemani oleh Juhaiman berdiri di tempat sebagaimana digambarkan Nabi- di bawah bayangan Ka'bah, di antara kuburan Ismail dan Hajar, juga sebuah batu besar dimana terdapat jejak kaki Ibrahim. Juhaiman menyeru pada seluruh umat islam di tempat tersebut bahwa Imam Mahdi yang ditunggu- tunggu telah datang dan semua orang harus bersumpah setia kepada Muhammad Abdullah. Lalu, satu persatu pengikut Juhaiman membungkuk, mencium tangan Muhammad Abdullah dan memberi baiat. Demikian juga para sandera. .
Dengan baiat tersebut, berarti secara formal telah mengalihkan dukungan para jamaah Saudi dari keluarga kerajaan kepada (yang dianggap) Imam Mahdi. .
Imam Masjid, Syekh Muhammad bin Subail yang merasa sadar akan ketidaktepatan tindakan Juhaiman berusaha menghubungi atasannya, Syekh Nasir bin Rasyid untuk menjelaskan peristiwa tersebut. Ini lah awal dari kebingungan Istana Saud. Di satu sisi, telah terjadi pemberontakan yang memang  harus segera dituntaskan. Namun, disisi lain, Masjid Al Haram yang menjadi target para pemberontak adalah tempat tersuci umat islam, dimana terdapat larangan untuk membunuh apapun di dalamnya. .
Setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya kerajaan Saudi memutuskan untuk melawan pemberontak dengan senjata. Untuk menghargai perasaan para ulama, pemerintah saudi sangat berhati-hati agar tidak merusak Masjid Al Haram pada penyerangan pertama. Gempuran tembakan yang mulai menghujani kompleks bangunan tanah suci kebanyakan adalah ledakan cahaya yang tidak mematikan. Hanya mengacaukan pasukan Juhaiman dengan kebisingan yang memekakkan dan cahaya silau yang membutakan. Namun, tidak dapat dipungkiri, penyerangan yang berlangsung selama berhari-hari semakin lama semakin memanas. Semakin banyak korban tewas dan tentu saja terjadi berbagai kerusakan di bangunan suci itu.
Hari Sabtu dan Minggu (24-25 November 1979) Sebagian besar pemberontak mundur dari pemukaan masjid menuju ruang bawah tanah Qabu. Hanya sekelompok kecil pengikut Juhaiman yang bertahan di gang-gang tempat suci yang terbakar lantaran bom. Salah satu dari mereka adalah Muhammad Abdullah, sang Mahdi palsu. .
Untuk memperlihatkan keabadiaannya, Muhammad Abdullah menggunakan cara baru. Setiap kali ia mendengarkan dentingan granat yang dilempar, ia memungutnya dan melemparkannya kembali ke para prajurit. Berberapa kali berhasil memang. Namun, keberuntungan kemudian tak berpihak padanya. Saat Muhammad Abdullah hendak memungut granat untuk kesekian kalinya, granat tersebut terlanjur meledak, menjadikan beberapa bagian tubuh bawahnya hancur. Rasa takut dibawah gempuran tembakan membuat kawanan pemberontak tidak bisa menyelamatkan sang Mahdi mereka, yang tengah menggeliat kesakitan di tengah asap beracun. Hingga dia ditinggalkan begitu saja.
Beberapa kawanan pemberontak yang mampu mencapai Qabu hidup-hidup melaporkan tentang kabar Muhammad Abdullah. Faisal Muhammad Faisal terguncang mendengar laporan tersebut. Keyakinan pada Juhaiman yang dulu lemah, bahkan sebelum aksi pemberontakan dilakukan,  kini benar-benar menguap sepenuhnya. Dia begitu menyesal,telah mengukuti Juhaiman. Tidakkah dijanjikan dalam hadits bahwa Mahdi kebal terhadap bom dan peluru??
Rumor kematian Mahdi telah menyebar ke seluruh pemberontak. Keyakinan mereka mulai melemah sebagaimana Faisal. Rasa ragu menyelimuti hati mereka. Namun, dengan kecakapannya berbicara, Juhaiman mampu mengembalikan keyakinan mereka. Kawanan pemberontak, belum menyerah.
Kokohnya semangat pemberontak untuk terus maju hingga titik darah penghabisan sulit untuk ditaklukkan. Pemerintah Saudi pun meminta bantuan Amerika dan Eropa untuk memulihkan situasi di tanah suci.
18 jam setelah penyerangan terakhir ke Qabu dimulai, dua pasukan militer inti akhirnya membentuk formasi lingkaran di bawah masjid, bertemu di area Gerbang King Abdul Aziz. Sebelum Fajar, pada hari Selasa, 4 Desember 1979, Agen Pers resmi Saudi mengumumkan kepada dunia sebuah pernyataan dari pangeran Nayif bahwa pembersihan semua anggota kelompok pembelot dari basemen Masjid Al Haram telah dituntaskan pukul 01:30 pagi itu. .
Peperangan berakhir, tepat dua minggu sejak Masjid Al Haram diambil alih oleh kawanan Juhaiman Al Utaibi. Menurut perhitungan Nayif, sekitar 270 orang meninggal dalam pemberontakan tersebut. Namun, para pengamat independen dan saksi memperkirakan, bahwa peperangan yang terjadi selama dua minggu di Masjid Al Haram menelan korban sekitar 1000 orang, bahkan bisa lebih.
Pagi, tanggal 9 Januari 1980, sebanyak 63 tahanan yang terlibat dalam pemberontakan Juhaiman dikenai hukuman pancung. Hukuman ini dilakukan di delapan kota di Saudi, antara lain Mekkah, Riyadh, Madinah, Dammam, Buraida, Hail, Abha, dan Tabuk. Jumlah keseluruhan yang dihukum adalah 39 orang Saudi, 10 orang Mesir, 6 orang Yaman, dan beberapa orang Kuwait, Irak, Sudan.
Peristiwa Juhaiman menjadi bagian penting dari sejarah modern kota Mekkah. Para pengamat politik dan sejarawan menganggap kejadian itu sebagai insiden lokal semata yang tidak bersangkut paut dengan peristiwa internasional yang belakangan merebak, yakni terorisme. Namun, Yaroslav Trofimov berpendapat sebaliknya. Menurut Yaroslav, peristiwa Juhaiman adalah akar dari gerakan terorisme global, terutama yang dimotori Al Qaeda.
Pada tahun- tahun setelah peristiwa pengambilalihan Masjid Al Haram, Pemerintah Saudi mencoba sekuat tenaga untuk menghapus peristiwa berdarah tersebut dari memori publik. Peristiwa Juhaiman merupakan hal sensitif bagi pemerintah Saudi.  Sehingga, beberapa sumber cetak berupa kumpulan artikel pada surat kabar Saudi dan pidato- pidato kenegaraan yang berkaitan dengan peristiwa ini ditarik dari perpustakaan dan dimasukkan dalam daftar publikasi terlarang, sesaat setelah dicetak di Jeddah pada tahun 1980.
Trofimov, Yaroslav. 2017. Kudeta Mekkah: Sejarah Yang Tak Terkuak. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.

Salatiga, 5 Juli 2018, 11:36 a m
OZY SHIRA

Selasa, 04 Juli 2017

FILM SURAT KECIL UNTUK TUHAN 2017

Film Surat Kecil Untuk Tuhan yang disutradarai oleh Fajar Bustomi berhasil menghipnotis penulis. Uraian cerita yang bisa dibilang, mengiris hati penonton ini menguraikan  tentang betapa kerasnya hidup. 

Berawal dari dua kakak beradik yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya, tokoh bernama Anton dan Angel menggiring penonton pada nasib anak-anak malang. Anton dan Angel kabur dari rumah paman dan bibinya, usai melihat tindak kekerasan sang paman pada istrinya. Dengan penuh kepolosan mereka berjalan diantara rel-rel kereta api, tanpa tahu hendak kemana. Hingga mereka terlantar di sebuah kota besar. Menjadi gelandangan yang kelaparan.

Seorang laki-laki paruh baya mendekati mereka, saat mereka berusaha bersembunyi dari kejaran SATPOL PP. Dengan nada lembut penuh kasih, laki-laki itu menawarkan makan dan tempat tinggal. Hingga sampailah Anton dan Angel pada sebuah tempat penampungan anak. Laki-laki paruh baya itulah pemiliknya. ‘Om Rudi’, demikian anak-anak memanggilnya. 

Seolah berputar 180 derajat. Om Rudi yang tadinya penuh kasih di mata Anton dan Angel, menjadi begitu bengis. Mereka berdua beserta anak- anak gelandangan yang lain dipaksa untuk menjadi pengemis dan pengamen. Parahnya lagi, Om Rudi meminta setoran dari hasil kerja anak-anak. Jika hasil mereka tidak mencapai target yang diminta, mereka mendapat berbagai macam hukuman berupa kekerasan fisik. Dari hukuman cambuk, pemukulan, setrika menenggelamkan kepala dalam air, hingga pemerkosaan. 

Kekejaman seorang Rudi, tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Semua anak percaya bahwa mereka akan bebas dari semua aturan Rudi setelah mereka memiliki orang tua asuh. Karena itu, beberapa anak tampak gembira ketika Rudi memberitahu bahwa mereka akan segera diantarkan kepada orang tua asuhnya. Namun, keceriaan mereka berakhir di sebuah gudang tua. Mereka dibius hingga tak sadarkan diri, kemudian dibedah tanpa ampun. Organ-organ tubuh mereka diambil untuk dijual secara Ilegal. Berita tentang adanya orang tua asuh hanyalah kebohongan semata. Katanya (Rudi), wajah-wajah tak berdosa itu diantarnya ke Surga. 

Kasus Sang Rudi baru dapat dipecahkan 15 tahun setelah Anton menjadi korban penjualan organ. Angel yang telah beranjak dewasa dan menjadi ahli hukum, berhasil menguak semua kekejaman Rudi. Berkat dorongan hatinya untuk mencari Anton, Angel mampu membuat Rudi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Maraknya isu perdagangan anak dan organ tubuh baru-baru ini, mungkin menjadi salah satu sumber inspirasi sang penulis skenario. Secara keseluruhan, film ini benar-benar mampu menggertak hati penonton. Gambaran film tersebut secara tidak langsung mengingatkan kita akan pentingnya rasa syukur. Sekalipun hanya film, tetapi gambarannya begitu jelas, bahwa masih sangat banyak orang yang kurang beruntung di kehidupan nyata. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk terus melatih kepekaan sosial. Namun demikian, kewaspadaan juga perlu dimiliki. Tidak selalu, yang terlihat baik benar-benar baik, dan yang tampak buruk benar-benar busuk. 

Hanya saja, menurut penulis, film ini kurang layak untuk ditonton oleh anak usia kurang dari 17 tahun. Penulis mengatakan demikian karena sebelum film dimulai, tertulis bahwa film itu hanya untuk 13+. Sementara, adegan-adegan kekerasan (meski tidak semua) digambarkan oleh para pemeran. Terlalu riskan jika ditoton oleh anak-anak yang masih dalam masa perkembangan otak. Pada masa ini, segala perkembangan otak yang terjadi, akan mempengaruhi kehidupan mereka selanjutnya. Masa remaja yang sangat rentan emosinya, seringkali tidak berpikir mengenai resiko.  Mereka bisa saja meniru hal yang digambarkan dalam film tersebut secara spontan lantaran ada adegan film yang tertanam dalam alam bawah sadar mereka.

Salatiga, 04 Juni 2017, at  20:27
Ozy Shira

NOTE:
Demikian sekilas tentang film Surat Kecil Untuk Tuhan 2017. Untuk lebih jelasnya, bisa nonton sendiri filmnya. Mohon maaf, jika ada bagian tulisan, yang mungkin sedikit meleset. Hehe... tapi Insyaallah kurang lebihnya seperti itu. Mohon maaf juga, jika tulisannya masih tidak teratur...hehe, masih belajar.
Thanks for reading... 

Minggu, 18 September 2016

GAGAL MOVE ON (Aku Jatuh Cinta Part 2)

Dia benar-benar telah mengisi hari-hariku. Kadang dia terasa menyenangkan. Tetapi kadang dia juga menyebalkan. Sering kali dia membuat masalah denganku, membuat otakku berpikir keras, bahkan membuatku menangis lelah karena tak lagi mampu menghadapinya. Tapi, sesulit apapun masalah yang dibuatnya, aku tak pernah benar-benar ingin meninggalkannya. Aku hanya pergi sejenak untuk mendinginkan otak, lalu kembali lagi dengan senyum ceria. Aku mulai berpikir untuk kesekian kalinya, tentang bagaimana menghadapi masalah. Hingga aku benar-benar mampu memahami dirinya dan mampu menyelesaikan masalah itu.

Kalian tau? Dia sungguh rumit, sulit dipahami. Mungkin, karena itu sebagian besar teman-temanku tak menyukainya. Lalu, apa aku gila ketika aku jatuh cinta padanya? Atau aku terlalu bodoh? Aku rasa tidak, mungkin menurutku, dia unik. Dia beda, penuh teka-teki, dan pastinya selalu bisa memancing rasa ingin tahu. Mungkin juga, aku memang buta, seperti cinta. Tak mampu memilih mana yang lebih mudah untuk dipilih dan dipahami. Tapi, hatiku selalu mengatakan “terserah”. Dia terlalu indah untuk sekedar aku lewatkan. Rumitnya adalah seni kehidupan. Kadang mudah, kadang juga susah. Aku terlanjur jatuh cinta padanya.

Suatu hari, Tuhan berkehendak lain. Aku tidak diijinkan untuk bersamanya ketika aku merasa aku telah dewasa, dan berhak untuk memilihnya sebagai teman hidupku. Tuhan memang tidak memisahkan kita sepenuhnya. Tetapi, DIA mendatangkan pihak ketiga, dan tentu saja aku tak punya rasa padanya. Hanya saja, tak adil rasanya jika aku meninggalkan yang kucinta demi pihak yang memaksa.

BAHASA INGGRIS, namanya. Dia mengejarku sejak aku duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Dia memaksaku untuk memahaminya, meski aku sama sekali tak menyukainya. Dia benar- benar menyebalkan, dan membosankan. Bahkan, untuk sekedar bertemu saja aku enggan. Kalaupun terpaksa bertemu, aku hanya membiarkannya berbicara denganku, tanpa aku pedulikan. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kejam memang, tapi aku tak ingin dipaksa.

Hingga seiring dengan semakin dewasanya pemikiranku, aku sadar, bahwa Takdir Tuhan hanya perlu di syukuri. Tuhan lebih mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita. Akhirnya, aku mencoba menikmati kebersamaan dengannya, meski aku masih tak memutuskan hubungan dengan Matematika. Tidak ada pilihan lain, Tuhan membawa kakiku berpijak di rumah Bahasa Inggris, bukan membawaku ke rumah Matematika. Mau tidak mau, bumi Bahasa Inggris yang harus ku junjung.

Aku telah hidup bertahun- tahun dengan Bahasa Inggris, tetapi pemahamanku pada dirinya, masih tak bisa sedalam aku memahami Matematika. Kadang aku menangis ketika merindukan yang sebelumnya, aku berharap waktu terulang kembali, ke masa saat Tuhan belum memisahkan kita. Tapi apa daya, jika aku tak mampu memiliki apa yang aku cintai, aku tetap harus mencintai apa yang ada dihadapanku.

Sampai saat ini, aku masih berusaha mencintai Bahasa Inggis, dengan setulus hatiku. Tapi aku masih tak mampu. Berkali-kali, ketika aku keluar dari rumah Bahasa Inggris, aku menemui Matematika, sekadar berbagi masalah dan cerita. Dia masih setia. Menungguku di rumahnya, berharap aku kembali padanya. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk tetap bersamanya, meski harus berada diantara sela-sela waktuku bersama Bahasa Inggris. Karena aku masih mencintainya, si Matematika. Betapa sulitnya Move On dari Cinta Pertama.

NB: Masih cerita iseng. Thanks for reading my sentences.

Salatiga, 18 September 2016 at 17:00 WIB

By Ozy Shira

Sabtu, 17 September 2016

AKU JATUH CINTA

Mungkin aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku melihat dunia. Saat aku baru saja lahir dari Rahim bunda. Ketika ayah membisikkan salah satu dari 99 nama “الله اكبر ” yang artinya Allah Maha Besar. Frase pertama yang menyatakan ukuran, yaitu “besar”, dan merupakan frase pertama yang mengajariku bahwa 99 – 1 = 98. Sebuah perhitungan yang menyatakan bahwa aku masih harus mengenal 98 nama lagi setelah 1 diantara 99 nama kuketahui dari bisikan adzan. Dan orang – orang menyebut perhitungan itu sebagai pengurangan.

Pada masa selanjutnya, di setiap hari kelahiranku, mereka menyebutkan angka dengan kalimat “umur kamu sekarang 1 / 2 /3 /4 /….. tahun, nak”. Sebuah kalimat yang memberitahuku bahwa angka itu tak terhingga, yang disimbolkan dengan “∞”. Kalimat tersebut juga secara tidak sengaja mengajariku bahwa ketika usiaku 2 tahun, pada tahun berikutnya usiaku 3 tahun, yang artinya 2 + 1 = 3. Mungkin disini aku mulai mengenal penjumlahan.

Saat usiaku menginjak usia anak yang mulai belajar memahami satu sama lain, Mak (baca: Bunda) membiasakan aku untuk saling berbagi. Suatu hari ketika hendak makan, Mak berkata, “Nduk, maem sik karo ndok dadar gulo…, tapi mbak dingengei” (“Nak, makan dulu pakai telur dadar nih…, tapi sisakan untuk kakak”) dengan membawa piring berisi selembar telur dadar. Kemudian aku melihat Mak mengambil sendok dan pisau, lalu memotong telur dadar itu menjadi 2 bagian yang sama besar. Disini secara tidak langsung, Mak mengajariku bahwa selembar telur yang dimakan 2 orang harus dipotong menjadi 2 bagian sama besar. Dalam kalimat perhitungan ditulis 1 : 2 = 1/2. Angka pecahan pertama yang kukenal berasal dari kalimat yang orang- orang sebut dengan nama pembagian.

Pada waktu yang lain, ketika aku mulai mengenal tentang kepedulian secara tidak langsung Mak mengajariku, lagi-lagi dengan hal yang sangat sederhana. Ketika beliau mengajakku pergi ke warung untuk berbelanja, kemudian aku meminta jajan, Mak selalu berkata, “tumbase dua, Nduk… !,  Mbak ngko satu…” (“Belinya dua, Nak… !, Nanti kakak satu…”). Kalimat ini, memberitahuku bahwa jika ada 2 orang yang menginginkan 1 jenis benda, maka bendanya harus ada 2. Jika ditulis dengen angka, maka 1 x 2 = 2. Kebanyakan orang menyebut kalimat itu sebagai kalimat perkalian.

Keempat istilah yang secara tak langsung aku kenal tanpa nama itu kini kukenal dengan istilah pengurangan, penjumlahan, pembagian dan perkalian. Kemudian, seiring dengan pertumbuhan akal dan pemikiaranku, sekolah memberitahuku bahwa istilah – istilah itu orang – orang sebut dengan istilah MATEMATIKA. Sejak aku mengenal istilah terakhir tersebut, aku sadar, bahwa aku tak bias hidup tanpa perhitungan matematika. Semakin berkembang pemikiranku, semakin besar pula rasa penasaranku padanya. Sehingga aku berusaha mencari tahu segala hal tentangnya. Aku mempelajari apa yang ada padanya, hingga aku mengenal sifat – sifatnya, seperti komutatif, asosiatif dan distributive. Lebih dalam lagi aku mengenal tentang Geometri, Aljabar, Algoritma, Integral , dan istilah – istilah lainnya yang terus memancing rasa ingin tahu.

Setelah aku mengenal banyak hal tentangnya, aku terus menjaganya dalam pikiranku, agar tetap ada, dan aku rasa aku tak ingin kehilangannya. Baru kini aku tahu, aku selama ini telah JATUH CINTA pada MATEMATIKA.

NB: hanya cerita iseng… hehe. Thanks a lot for reading my sentences.

Salatiga, 17 September 2016 at 19:00 WIB

OZY SHIRA