Selamat Datang Di Blognya Ozy Shira
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2014

Kaos Lusuh, Keringat Pertama

Aku terlalu menyayanginya
Kaos lusuh , keringat pertama
Tak peduli akan warna
Tak peduli akan noda,
Aku hanya ingin bersamanya,
Itu yang kurasa,

Awal Mei 2010, untuk pertama kalinya kupijakkan kakiku dengan penuh kebanggaan. “RAMAYANA MALL”, sebuah tulisan yang tampak tertera di muka bangunan yang kutuju. Hari Minggu, hari libur ketika tak ada perintah lembur untukku. Kakiku melangkah menuju sebuah bangunan megah yang belum pernah kutuju dengan rasa bangga, sebelumnya. Yaa, memang bukan kali pertama aku menjelajahi isi bangunan itu. Hanya saja, hari ini adalah kali pertama aku membawa rasa percaya diri, ketika aku memilih aneka ragam tawaran.
Merah, kuning, hijau, biru, putih, dan ungu. Serentetan kaos lengan panjang berlabel harga Rp 50.000,- memaksaku untuk memilah. Tentu saja warna putih adalah pilihan utama. Warna yang selalu membuatku terpesona. Tanpa pikir panjang, tanganku menjulur, berusaha meraih pilihan hatiku yang masih tergantung di rak hunger. “Yupz, langsung ke kasir”, batinku.
Kakiku pun melangkah ke kanan, menuju kasir. Terlihat antrian panjang para pembeli menutupi meja kasir. Aku enggan melanjutkan langkah itu, hingga akhirnya mata minus 3,5 ku menangkap sebuah lambaian kaos kuning lengan panjang di kejauhan. Modelnya hampir sama dengan benda di tanganku, tapi rasa penasaran pun muncul. Mungkin karena rasa ‘sok bangga’ku yang seakan segalanya. Yaaah, akhirnya, aku tergiur dengan kaos berlabel Rp 56.000,- itu. Pikirku, meskipun warnanya tak seindah warna yang kusuka, setidaknya, ada kekasih untuk si putih.
Deretan pembeli di hadapan kasir-kasir cantik mulai memendek. Dua baju lengan panjang yang beberapa menit lalu menutupi lenganku kini berpindah ke tangan wanita cantik berpakaian orange hitam.
“ Seratus Enam Ribu, Mbak”, ucapnya sembari menatap wajahku.
            Dengan senyum sok manis, kuulurkan tangan kananku, menyerahkan lembaran-lembaran hasil keringat pertama, dengan rasa bangga.
@@@
Aku tak rela,
Jika harus mengubah namanya,
Meski bubur merah menyapa,
Aku tetap tak kuasa,

“Mbak, lap ya?”, kata Zahara sembari menenteng kaos lusuh yang diambilnya dari rak jemuran.
“Hei, itu baru aja aku cuci tadi pagi, besok tak pakai lagi, enak ment tex!”, jawabku dengan separoh logat khasku.
“Ih, Mbak Ozy…tak kirain ini lap, abisnya…udah kayak gini sih”.
“Enak aja, biar gini-gini, lebih berharga daripada baju baru kamu ki…”, balasku tak terima.

Yaaa…, kaos yang 4 tahun lalu putih bersih, kini telah berubah warna. Lusuh, penuh noda kekuningan karena getah dan tanah. Tapi, jangan harap, aku akan melepasnya begitu saja. Aku terlalu menyayaginya. Hingga sekedar menyimpannya pun, aku tak rela. Aku masih sering memakainya, tanpa rasa malu. Yang ku tahu, aku bangga, memakai kaos lusuh, hasil keringat pertama, selepas SMA.

Minggu, 22 Juni 2014

Para Pejuang Tangguh

Para Pejuang Tangguh
Salatiga, 14 Juni 2014
Sosok itu berjalan setengah membungkuk, memikul keranjang bambu, sembari berusaha memperdengarkan suara paraunya di antara kerumunan mahasiswa.
“Taaapee…taaapee…”, ya, itu yang dia ucapkan di sepanjang jalanan kampus.
Dia terus berucap, meski tak satupun orang menghiraukannya. Dia terus berjalan di bawah terik sang surya yang tengah memuncak, tepat diatas kepala.
Deg! Deg!…Serasa jantung ini berdetak semakin kencang, dan mata ini…seakan enggan berbinar. Aku malu. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri. Aku malu pada dunia, dan aku malu kepada NYA. Allah menciptakan laki-laki berkepala delapan itu, sebagai sosok yang terlalu kuat, lalu DIA memperlihatkannya padaku. Tak cukup lama dia berada dihadapanku karena aku harus segera pergi dari tempat itu. Sungguh menyesal hati ini, ketika aku hanya melihatnya dari kejauhan.
Jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku beranjak pulang, berjalan menyusuri trotoar menuju terminal, DIA mempertemukanku dengan sosok kuat itu kembali. Di tengah kegelapan malam tampak seorang kakek terduduk melepas lelah di emperan sebuah toko. Entahlah, tiba-tiba kaki ini melangkah dengan sendirinya, berusaha mendekat.
“Pak, niku tape nggih?? Pintenan pak?”, tanyaku seolah aku adalah pecinta tape.
“Nggih monggo mbak, sak kersane…”, kata lelaki tua dengan penuh ketulusan.
Aku memandanginya, rambut putihnya setengah tertutup caping, keriput di wajahnya sangat kentara, dan tubuhnya seolah tinggal tulang. Perlahan aku mengajaknya bicara, sembari menunggu tapeku di bungkus, meski aku masih tak tahu, mau ku kemanakan makanan itu nantinya.
Kakek itu berasal dari Karanggede, dan dia tengah berjualan di Salatiga. Penjual keliling. Berkilo-kilo kakinya melangkah, tanpa kenal lelah. Jari- jari kakinya yang kering berdebu, hanya beralas sandal jepit yang tak cukup indah dilihat.
“Lha, mangkih sare pundi, Pak?”
“Nggih niku ta, ten Masjid Pendowo…”, ujarnya penuh semangat, lalu dengan lebih semangat dan penuh kebanggaan dia mengatakan bahwa anaknya, adalah seorang santri yang tengah menghafal Al Qur’an di sebuah pesantren di Salatiga.
Teman, Kakek itu terlalu kuat, atau kita yang terlalu mudah putus asa?
Hanya demi pendidikan pesantren untuk anaknya, dia rela berjalan kaki, menghabiskan waktunya hanya untuk menjual tape yang keuntunganya tak seberapa. Bahkan mungkin, hanya sekedar untuk ongkos Salatiga-Karanggede pun tak akan cukup.
Lalu…kita???
Bagaimana dengan kita???
Atau hanya aku??? bukan kita???
            “Aku” sebagai anak, atau “aku” sebagai manusia pada umumnya….???
Teman. Ozy cm pengen berbagi, semoga bermanfaat…JJJ

Aku pikir, “Akulah Gatut Kaca”, tapi ternyata bukan. Atau mungkin belum?. Begitu banyak para pejuang tangguh yang selama ini lalu lalang dihadapanku, tapi aku tak sadar. Dari kekek penjual koran di kampus, kakek penjual bunga kertas dan kakek penjual kacang kedelai di alun-alun, hingga bapak penjual bak Pau.
Setiap jarum jam menunjuk pukul 09.30 WIB, seorang kakek berbaju krem kecoklatan berjalan lamban menuju Mading kampus, tempat dimana mahasiswa berkerumun menunggu jam kuliah selanjutnya tiba. Terlihat sebuah tas kandi berwarna putih lusuh menggantung di bahunya, terapit diantara lengan kanan dan tubuhnya. Tangan kirinya melipat, memeluk setumpukan koran harian. Dengan suara lemas, nyaris tak terdengar, dia berkata pada kerumunan, “kooran…,kooran…”.
Pukul 14.00 WIB, seorang lelaki paruh baya tampak berjalan menjunjung rantang besar di atas kepalanya, sembari bersuara lantang “ Bak Paunya maaas, Mbaaak… Bak Pau…! Cuma 2000…”. Pukul 16.30 WIB, seorang kakek usia tujuh puluhan mendorong gerobak berisi kacang kedelai, di sepanjang alun-alun kota Salatiga. Kemudian di waktu lain, di alun-alun kota, tampak seorang kakek penjual bunga kertas yang hanya berharga Rp 300,- menunggui gerobaknya, berharap ada yang datang membeli dagangannya.

Mereka semua adalah Para Pejuang Tangguh yang hampir setiap hari membuat mataku terbuka, lalu memaksaku untuk tak pernah berhenti melangkah. Sekali lagi, Ozy Cuma pengen berbagi. Mungkin bahasa dalam tulisan ini masih terlalu buruk untuk pembaca. Tapi, gak usah dilihat bahasanya ya…direnungin isinya aja. Semoga Bermanfaat…

Jumat, 25 April 2014

TATAPAN KOSONG

Tatapan Kosong
By: Ozy Shira
Angin malam merasuk  melalui pori-pori kulitku, membuatku semakin menggigil dalam tangis pengantar tidurku. Memory-memory itu muncul begitu saja tanpa seizinku. Yaa, mereka selalu lalu lalang melintasi benak dikala aku hampa. Mereka berlari kesana kemari membuat otakku seperti jalan raya tanpa lampu lalu lintas. Tak beraturan. Yang kutahu, hanya tangisan yang menjemput mimpi-mimpi malamku. Seperti serentetan gerbong kereta, mereka datang dengan nada berisik mengguncang. Berbagai kegiatan yang berjajar di tahun 2013, tak satupun yang aku masukkan dalam keseharianku sebagai pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
Gerbong kereta pertama mengatakan, “kemana saja kamu waktu Perekrutan Anggota?”
Gerbong kereta kedua mengatakan, “Kamu juga gak datang waktu Pendidikan Pers”
Gerbong kereta ketiga mengatakan, “Bukankan pendidikan crew magang seharusnya menjadi tanggung jawabmu?”. Semua itu terngiang ditelingaku.
Kesibukanku selalu berakhir tepat jam 21.00, dan saat itulah kehampaan menghampiriku. Kadang aku mencari kesibukan lain hingga aku lelah kemudian aku tertidur lelap, namun ketika hembusan angin dini hari memasuki kamarku, melalui celah-celah ventilasi jendela, mataku membuka, lalu dalam hitungan detik memory itu kembali melintas bagai angkutan umum tak butuh penumpang. Melaju dengan kecepatan tinggi, berbolak-balik seolah tak mengenal terminal. Hingga kelopakku tak lagi mampu membendung butiran-butiran bening yang hendak membanjiri pipiku.
 Aku sadar, aku mampu menjawab semua pertanyaan gerbong-gerbong kereta itu.  Aku lebih memilih untuk pergi bersama teman-temanku untuk hang out kesana kemari, yang kuakui itu sama sekali tidak penting dan bisa aku lakukan dilain waktu, daripada aku harus mengikuti susahnya crew menyiapkan segala sesuatu menjelang Perekrutan Anggota. Aku lebih memilih untuk duduk manis di depan lap top, berkecimpung di dunia maya, berbicara dalam segala bentuk social media, daripada harus menjadi pelaksana Pendidikan Pers. Aku selalu merasa facebook, twitter, dan jalan-jalan, lebih penting daripada melaksanakan tanggung jawabku, bahkan lebih penting daripada hanya sekedar menghadiri rapat.
“Lembur bareng LPM with Kania Rosalia, Pranata Kamal, Raden Ageng Tirtayasa, Purnama Kembar, Kolonial Cakep, Mavia Warsa, Maria Noeriena. At LPM Office”, aku ingat sebuah status facebooker dengan nama akun Carisa Cuwex melintasi berandaku pada suatu malam pukul 22.30 . Sebuah status yang menunjukkan bahwa hatiku telah mati. Aku sama sekali tak peduli dengan kemajuan LPM. Aku sama sekali tak merasa iba, mengetahui sahabat-sahabat yang dahulu adalah sahabat seperjuanganku menuju LPM tengah bekerja keras untuk LPM. Justru aku duduk manis menikmati game-game online.
Adzan subuh berkumandang, mengingatkanku bahwa masih ada hal yang lebih layak untuk kutangisi. Lebih baik aku menangisi diamku saat ini daripada aku menangisi kesalahanku yang telah lalu. Yaa, kenapa aku hanya diam? Kenapa aku tak berbuat sesuatu?. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang putus asa? Bukankah Allah selalu menerima taubat hambanya?.
“Bodoh!”, kataku pada diriku sendiri.
Saatnya aku berdiri, mencari hal yang membuatku menangis selama satu bulan liburan kuliah. Dan aku teringat bahwa yang membuatku menangis adalah hari itu, hari dimana Musyawarah Besar (MUBES) dan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dilaksanakan.
Hari itu, tepatnya pukul 10.00, setelah ketiga presidium sidang terpilih menjadi pemimpin Sidang Pleno I, semua pengurus LPM menuju ke muka peserta MUBES. Kami akan menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban kami selama satu tahun masa kepengurusan. Betapa mudahnya mulut ini mengucap semua kebohongan yang aku buat. Aku membaca laporan pertanggungjawabanku yang tak pernah kulakukan dengan tanganku. Tak pernah aku langkahkan dengan kakiku. Tak pernah aku buat dengan pikiranku. Betapa mudahnya aku mengatakan bahwa semuanya telah terlaksana, padahal bukan akulah sang pelaksananya.
Hingga aku sadar, keesokan harinya, kaki ini terasa berat melangkah memasuki kantor LPM.
“Yes !, aku bebaaaaasssss…!”, teriak Carisa meluapkan kebahagiaannya sembari mengangkat kedua tangannya keatas seakan baru saja mendapatkan udara segar setelah sekian lama terkurung dalam ruang pengap.
“Alhamdulillah ya…, akhirnya kita jadi demisioner juga…”, sahut Maria dengan gaya ke-Syahrini-annya.
Mendengar kata-kata mereka, membuatku bertanya pada diriku sendiri. ‘Kenapa aku tak merasakan seperti yang mereka rasakan?. Aku sama sekali tak merasakan kelegaan seperti kelegaan mereka. Yang aku rasakan hanya kehampaan tanpa pengalaman dan kekosongan tanpa kenangan. Aku bertanya pada diriku sendiri, ‘apa aku pernah berorganisasi?’, namun aku tak mampu menjawabnya.
Kini pikiranku diselimuti rasa berdosa, rasa bersalah yang tak kunjung hilang dari benakku. Benar kata orang, bahwa penyesalan itu datangnya di akhir. Betapa layaknya aku disebut sebagai seorang penipu, pembohong, pengecut dan bahkan koruptor sekalipun. Aku telah berlari dari tanggung jawabku sebagai pengurus, aku melimpahkan tanggung jawabku kepada orang lain tanpa kata “tolong” ataupun “maaf”, lalu aku mengakui terlaksananya tanggung jawabku sebagai pengurus tanpa kata “terimakasih”. Hah, betapa munafiknya aku. Betapa kejamnya aku. Betapa mengecewakannya aku. Aku telah melalaikan tugas yang orang-orang percayakan padaku. Sungguh, kini aku menyesal.

Waktu sudah berlalu. Nasi telah menjadi bubur. Yang aku rasakan kini hanya sebuah tatapan kosong. Aku tak tau, harus bagaimana untuk menebus semua kesalahanku. Aku lelah dikejar-kejar rasa bersalah. Aku letih dirundung rasa sedih. Tapi aku malu mengakui kesalahanku. 

Rabu, 26 Februari 2014

CERPEN -God works in a mysterious way

God works in a mysterious way
By:  Ozy Shira

“Hahahaha....ayo...nambah trussss....” 
“Indahnya dunia....”
Keramaian disebuah malam yang membuatku merasa seolah aku berada di surga. Bebas....melayang....penuh khayalan...dan tanpa beban. Dengan sempoyongan kuraih anggur merah untuk yang kedua kalinya. Meski kutenggak dua botol anggur merah pun, tak kan mengalahkan tubuhku tuk jadi tak berdaya. Kebiasaan telah membuat minuman–minuman dari neraka itu menjadi seolah air putih.
Kehidupan Salatiga memang tak sekeras Kota Metropolitan. Tapi kehidupan keluargakulah yang membuatku menjadi seolah manusia kerak neraka. Sering aku berpikir, mungkin surga benar- benar telah menolak manusia seperti aku.
Setiap hari aku harus mendengar pertengkaran orang tuaku yang aku sendiri tak tahu penyebabnya. Hinggga akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Karena menahan stres aku pun memutuskan untuk kabur dari rumah. Waktu itu aku masih duduk di SMA . Mungkin memang sudah cukup dewasa untuk berpikir tentang masalah orang tua ku. Tapi kesibukan orang tua yang selalu menghalangi kami untuk bersama membuatku merasakan kesepian. Apalagi ditambah dengan masalah antara kedua orang tuaku.
Waktu itu aku menemukan bapak dan ibu bertengkar saat aku pulang sekolah. Ini adalah pertengkaran yang kesekian kalinya yang aku dengar. 
“Ini hari terakhir saya di rumah ini !”, kalimat yang sungguh tak pantas aku dengar dari seorang ayah. Kalimat yang secara tak langsung mengatakan bahwa bapak akan pergi dari ibu.
Entah setan apa yang merasuki pikiranku, aku mengurungkan niatku untuk masuk rumah. Kubalikkan tubuhku melawan arah tujuan utama. Berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Hanya itu yang aku lakukan. Dalam keadaan masih memakai pakaian putih abu-abu, aku susuri kota.
“Hai, kayaknya stres amat, muka ditekuk gitu”, kudengar suara tak ku kenal.
Seorang lelaki sebayaku menghampiriku. Lusuh, dengan celana pensil berantai di pinggangnya, kaos merah berpadu dengan rompi aneh penuh hiasan logam berwarna perak. Rambut  sebahu bercat merah dan tindik di telinga dan hidungnya memberikan kesan sangar. Tubuhku terasa gemetar tak menentu. Rasa takut menyeruak. 
“Hai, tak usah takut begitu lah...biasa aja...”, rupanya ketakutanku terlihat olehnya, meski berada dalam gelap malam.
“Heh, ini jam udah jam sebelas malem, ngapain masih kluyuran ? Pake seragam lagi...kabur loe ??”.
Masih dalam rasa takut aku menjawab pertanyaannya. Sepertinya dia tak ingin berbuat jahat.
“Kok tahu kalo aku kabur...?”.
Hanya sebuah senyuman yang kuterima. Tanpa basa- basi dia rangkul aku dan membawaku ke sebuah tempat.
“Kalo loe mau, loe bisa tinggal disini....Mereka semua temen-temen hidup gue...”
Sejak itulah aku tak lagi mengenal sekolah. Aku hidup dilingkungan orang- orang yang tadinya membuat aku takut. Aku pun mengubah penampilanku seperti mereka. Laki- laki yang menemukan aku adalah pimpinan semua preman di tempat itu. Seolah tak lagi aku mengenal adanya Tuhan dalam hidupku. Yang aku miliki sekarang hanya rasa persahabatan dan kenikmatan surga dunia.
Rokok, chivas, bahkan ganja dan sabu-sabu, kini senantiasa mengisi hari-hariku. Segala hal yang merugikan orang lain aku lakukan untuk mendapatkan uang. Sesekali kami adakan pesta miras. Aku raih chivas berjajar yang ada,  aku tenggak. Rasanya pahit, panas dan gatal di tenggorokan. Lalu kurasakan perlahan aku melayang tanpa beban. Hingga aku tak sadarkan diri. 
Keringnya tenggorokan, mualnya perut, dan muntah serta lemahnya tubuhku setiap pagi karena beberapa botol chivas tak membuat aku jera, justru aku semakin bergantung pada minuman itu.
Kadangkala kami rasakan kenikmatan tembakau Sampurna Mild yang telah berpadu dengan ganja. Kami hisap dan kami telan asap bakarannya, hingga kami melayang. Bahkan, bakaran tepung kristal dalam alumunium voil pun tak asing lagi bagi kami. Rasa dingin yang sangat kami alami setiap kali asap bong memasuki tubuh kami. Akan tetapi, rasa enjoy mengalahkan rasa dingin itu.
Tiga bulan aku tak menginjakkan kaki di rumahku, tapi tak ku ketahui satupun keluarga yang mencariku. Hal ini mendorongku untuk pulang, sekedar memastikan bagaimana keadaan rumahku kini. Sampai disebuah jalan menuju sekolah adikku, seseorang yang tak asing memanggilku.
“Kak Putra...!”
sesosok gadis berseragam putih biru berlari ke arahku dan memelukku. Sejenak kami terhanyut dalam tangis penyesalan.
“Kak...pulang kak...pulang sama Sani kak...Sani sendirian...”.
Aku terpaku tanpa kata, memandang gadis dengan tatapan rindu. Dia merengek memohon padaku untuk pulang.
“Kalo kak putra gak pulang aku ikutin terus sanpai kakak mau pulang”, Sani mengancam ditengah- tengah isaknya.
“Sani...,kamu udah gede...”, tanpa kata lain aku berjalan menuju tempat tinggalku. Dalam hati aku berharap Sani tak mengikutiku. Sesekali kutengok belakang, tak ada dia dibelakangku. Rasa tenang melingkupiku. Kuurungkan niat untuk pulang, karena aku telah melihat Sani dalam keadaan baik-baik saja. Dia adalah satu-satunya orang yang paling aku sayangi selama ini. Aku rindu kemanjaannya, aku rindu tawanya dan aku rindu kecohan mulutnya.
Seperti biasa aku isi malam ini dengan botol- botol pembunuh akal. Tiga botol ku tenggak. Tanpa kusadari ternyata Sani melihat semua yang kulakukan ini. Rupanya dia mengikutiku tanpa aku ketahui.
“Kak, itu gak boleh...sadar dong kak...kasihan ibu...kasihan bapak di alam sana...mereka sedih liat kakak kayak gini...”kata Sani disertai dengan air mata.
Meski dalam keadaan setengah sadar aku terkejut dengan kalimatnya. Kata “alam sana” membuat aku mendekati Sani dalam rasa penasaranku.
“Sani, alam sana ?”, kugoncangkan tubuh Sani, ku kerutkan dahi, ku tatap lekat matanya. 
“Bapak meninggal dalam kecelakaan waktu hendak pergi dari rumah....Satu bulan kemudian Ibu juga meninggal karena menyesali kepergian bapak dan mengharapkan kepulangan kakak, hingga sakit. Kami semua sudah berusaha mencari kakak untuk ibu, tapi tak pernah ada hasil”.
Seketika tubuhku lemas tak berdaya. Seribu penyesalan aku rasakan. Ingin rasanya aku bunuh diriku sendiri. Tanpa pikir panjang, ku ambil sebuah kunci motor milik Praja, pimpinan kami.
“Sani, ayo pulang”.
“Tapi kan kakak mabuk. Bahaya kak...”
“Kakak bilang, pulang...kakak bisa...”, aku bersikeras. Ingin rasanya aku segera sampai di rumah.
Dalam keadaan setengah mabuk kukemudikan motor itu. Hingga aku sadari aku telah berada di sebuah ranjang pesakitan. 
“Kamu sudah sadar nak..? , syukurlah...”.aku sangat mengenali suara itu.Bukan Sani, tapi itu suara Budhe, wanita yang selama ini tinggal bersama keluargaku. 
Pandanganku kosong. Tak ada yang kuingat, kecuali Sani. Ya, Sani, dimana dia ? Batinku bertanya-tanya, mataku mencari-cari. 
“Putra...,maafkan kami...kami terlambat menolong Sani...” Budhe menjelaskan tanpa aku minta. Tampaknya ia mengerti apa yang aku cari. Aku tatap sebuah kalender yang terpasang di dinding ruangan itu. 
“Sekarang tanggal berapa Budhe?”
“ Ya...,kamu koma selama satu bulan....”, dia tahu lagi apa yang aku maksud
“Sani mana ?”, kutanya lagi apa yang sebenarnya telah terjawab sebelumnya, tapi tak ku terima jawaban. Ah....lagi- lagi aku harus merasakan penyesalan ini. Dalam tangis aku ratapi semua kesalahan yang ku perbuat selama ini. Aku teriakkan nama Sani sambil meronta, mengamuk, tanpa mempedulikan selang infus di tanganku.
Tiga hari setelah itu dokter mengizinkanku pulang. Aku merasa tak ada gunanya lagi aku hidup. Aku hanya akan menjadi beban untuk orang-orang disekitarku. Kini aku hanya terduduk didepan sebuah televisi dengan tatapan kosong.
“Putra...,ini dari Sani. Dia menitipkan ini sebelum dia meninggal. Waktu itu dia sempat sadar. ”.
Budhe menyodorkan sebuah CD padaku. Aku langsung memutarnya. Kulihat sosok sani yang ceria berada diatas ranjang dengan kepala berbalut perban, dan selang oksigen melingkarinya. Dengan lemah seolah menahan sakit ia menyampaikan pesan untukku.
“Kak Putra...,aku kangen kakak...aku kangen bareng kakak....Kak.., Sani percaya kakak akan pulang. Sani percaya Kak Putra itu kakak yang paling hebat....Sani percaya kakak bisa buat bapak ibu bangga”.
Film yang sangat singkat tapi menyentuh. Setelah melihat film itu, aku bertekad untuk bangkit. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat. Sesekali aku merasakan keinginan yang cukup besar untuk kembali bergelut dengan barang-barang haram itu lagi. Tapi aku tahan. Niat taubatku dapat mengalahkan ketergantunganku terhadap obat-obat terlarang. 
Aku memutuskan untuk tinggal di sebuah pesantren untuk melanjutkan kehidupanku kearah yang lebih baik. Aku manfaatkan harta warisan orang tuaku untuk mendirikan Rumah Seribu Malaikat untuk menampung anak- anak tunawisma tanpa orang tua dan aku buka sebuah agen pelayanan pariwisata. Ku pekerjakan orang- orang yang membutuhkan pekerjaan. Meskipun tidak banyak orang yang bisa kubantu, tapi, setidaknya aku sudah berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. 
Aku sadari, inilah kehidupan. Kadang berada dalam kebahagiaan, tapi kadang jatuh dalam penderitaan. Mungkin ini adalah takdirku. Segala sesuatu ada hikmahnya. God works in a mysterious way. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Kita sebagai hambaNya hanya wajib untuk mensyukurinya. Menghadapi jalannya kehidupan, hingga ajal menjemput.


Asa Sang Bidadari

ASA SANG BIDADARI
Sungguh beruntung orang- orang yang memiliki mereka. Dua bidadari cantik penuh asa. Pejuang kehidupan sepanjang masa. Nayla dan Shira, dua bersaudara. Mereka berjuang demi masa depan. Berkorban demi memerangi kebodohan dan meraih kesuksesan.
            Kisah Nayla berawal sejak  dia lulus SMP. Mereka berasal dari keluarga tak punya, tetapi semangat mereka membara. Orang tua mereka tidak sanggup membiayai sekolah mereka berdua. Waktu itu, Shira lulus SD dan harus masuk SMP. Jadi salah satu dari mereka harus mengalah untuk berhenti sekolah.
            Kelabilan seorang remaja adalah hal yang wajar. Sebagaimana apa yang terjadi pada Nayla. Nayla bersikeras ingin masuk sekolah kejuruan tata busana yang memakan biaya yang tak sedikit. Karena merasa keberatan, orang tuanya tidak mengijinkannya.  Nayla tidak terima dengan keputusan itu. Seiring dengan berjalannya waktu, Nayla mulai berpikir dewasa. Akhirnya dia rela untuk sementara berhenti sekolah dan merelakan adiknya sekolah.
            Kebingungan melanda Nayla diantara kejenuhan tak berguna. Pikirannya terus berputar. Berpikir tentang apa yang hendak ia lakukan jika dia tak lagi seorang siswa. Ingin rasanya ia bekerja, tapi sebersit pikiranpun tak terlintas di otaknya. Apa yang hendak ia andalkan. seorang siswa lulusan SMP yang belum cukup umur, dan tak punya ketrampilan sama sekali.
            Suatu pagi yang cerah, Nayla pergi mencari informasi, barangkali ada pekerjaan yang dapat ia lakukan. Ia rela bekerja apa saja. Apa lagi sungguh besar harapannya untuk bisa melanjutkan sekolah lagi tahun depan. Dia bertanya dari rumah ke rumah, barangkali ada yang membutuhkan tenaganya. Akhirnya, seorang ibu berbaik hati memberinya pekerjaan. Meskipun pekerjaan itu kasar, tapi Nayla tak peduli. Nayla bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
            Pagi berangkat kerja dan sore hari pulang ke rumah. Hari- harinya diisi dengan pekerjaan- pekerjaan rumah majikannya. Satu bulan bekerja, waktu gajian pun tiba. Sore itu dia di panggil oleh majikannya.
“Nay….ini gaji pertama kamu. Pekerjaan kamu bagus…”,majikannya menyodorkan amplop pada Nayla.
“Bu, bolehkah saya minta tolong ?”, kata Nayla seolah tak peduli dengan sodoran amplop di depannya.
“Tentu… kalau ibu bisa, kenapa tidak ?”
“Tolong Ibu simpankan uang gaji saya untuk sementara. Ibu berikan gaji itu nanti saja jika saya butuh”
“Kamu serius ?”
Nayla hanya mengangguk diam kemudian berpamitan pulang.
            Bulan demi bulan berlalu. Tahun ajaran baru hendak dimulai. Nayla memutuskan untuk meminta gajinya selama ini. Dia berniat untuk menggunakan uang gaji itu untuk mendaftar sekolah lagi. Meski waktu yang satu tahun telah berlalu tanpa status sebagai siswa, tapi semangatnya melebihi semangat seorang siswa.
Pagi itu, dia meminta gaji, sekalian hendak berpamitan.
“Bu…,terima kasih atas segala sesuatu yang telah ibu berikan pada Nay. Nay gak tau harus membalas dengan apa. Nay gak kan lupa dengan semua yang Nay dapatkan disini. Hari ini Nay ingin pamit. Nay besok harus daftar SMA. Nay pengen sekolah lagi. Jadi Nay gak bisa bekerja di sini lagi…mohon do’a restunya…”
Kalimat Nay sungguh membuat majikan Nay terkejut.
“Kamu mau keluar? kamu yakin?. Kamu bisa kerja sepulang sekolah jika mau…”,dengan nada balas seolah tak rela.
“Tidak bisa bu…Mungkin saya akan masuk panti asuhan aja. Saya dapat info bahwa saya bisa sekolah dengan separo biaya jika saya di panti. Setidaknya, agak meringankan beban orang tua”
Lama berada dalam keheningan. Majikan Nay diam seolah memikirkan sesuatu. Keheningan itu terpecah ketika Nay memutuskan untuk pulang.
@@@
Adzan maghrib berkumandang, suara jangkrik bersahutan. Matahari terbenam berganti dengan sinar sang rembulan ditemani bintang- bintang. Sorotan sinar rembulan menerangi sebuah rumah reot mungil milik Nayla. Terlihat seorang wanita dan seorang lelaki paruh baya berdiri  mengetuk pintu rumah Nayla.
Mereka hendak bertamu. Mereka adalah majikan Nayla selama ini. Setelah di persilakan masuk, di ruang tamu rumah itu, mereka bersama Nayla dan orang tuanya seperti membicarakan sesuatu yang serius. Memang serius mungkin. Hal yang paling mengejutkan adalah ketika majikan Nayla bilang,
“Kami tidak punya anak, dan kami terlanjur cocok dengan Nayla. Jika Bapak dan ibu mengijinkan, kami ingin membantu Nayla. Kami ingin membiayai sekolah Nayla hingga lulus. Tapi ijinkan juga Nayla tinggal bersama kami”.
Kontan saja semua terdiam. Terutama Nayla. Perasaannya campur aduk. Dia bingung tentang apa keputusan yang harus dia ambil.
Butuh waktu dua hari bagi Nayla untuk memantapkan hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk tinggal bersama majikannya. Keinginan Nayla untuk sekolah di sekolah tata busana pun terpenuhi. Dengan sungguh-sungguh dia memanfaatkan waktunya. Bakatnya sungguh luar biasa.
Tiga tahun berlalu, dia lulus dengan nilai memuaskan. Bahkan dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di luar kota selama satu tahun. Karya- karyanya mendapatkan penghargaan dari lembaga. Pialanya pun selalu bermunculan.
@@@
Shira pun tak kalah semangatnya dengan Nayla. Kebetulan nasib Shira hampir sama dengan kakaknya. Shira dan Nayla masih punya satu adik laki-laki. Di saat Shira lulus dari SMA, adiknya harus masuk SMA sementara Shira sangat ingin melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Tapi, lagi- lagi orang tuanya tidak mampu membiayainya karena mereka juga harus membiyaai adiknya.
Tak jauh beda dengan Nayla. Bahkan ini lebih parah. Emosi Shira karena tak diijinkan kuliah memaksa Shira untuk marah. Tapi, kemarahannya mendewasakan pikirannya. Shira melampiaskan kemarahannya dengan melamar kerja di sebuah perusahaan garment. Pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik dan batin. Tapi dia tak peduli. Yang dia inginkan hanya membuktikan bahwa dia akan jadi sarjana suatu saat nanti, tanpa bantuan orang tua sekalipun.
Satu setengah tahun waktu dia habiskan untuk bekerja. Datang masa pendaftaran mahasiswa baru. Sekian banyak uang yang diterima tiap bulan bagi seorang remaja, tidak dapat mematahkan niatnya untuk tetap meninggalkan pekerjaan itu dan melanjutkan pendidikannya. Semangatnya terlalu besar. Dia sama sekali tidak berpikir darimana biaya kuliah selanjutnya setelah dia keluar dari pekerjaan itu.
Dengan modal niat dan nekat, dia habiskan satu semester waktunya di bangku kuliah, tanpa minta biaya dari orang tuanya. Dia masih menggunakan uang tabungannya. Tapi, memasuki semester dua, tabungannya menipis. Karena itu, dia mencoba untuk mencari pekerjaan sampingan di luar jam kuliah.
Sebuah rumah makan kecil menerimanya untuk bekerja. Dia juga mendapat tawaran menjadi guru privat. Jadi, setiap pagi dia kuliah, sorenya dia menjadi seorang pendidik dan malamnya dia bekerja di rumah makan. Hari- harinya dipenuhi dengan kesibukan- kesibukan tiga dunia, demi masa depan. Hingga 3,5 tahun berlalu dan dia berhasil menjadi seorang sarjana dengan nilai terbaik.
@@@
Kini kesuksesan berpihak pada mereka. Nayla telah menjadi designer muda berbakat yang terkenal. Dia juga punya butik terbesar di kotanya. Sementara Shira telah menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa bagi anak didiknya.
Dengan kerjasama dan kekompakan, mereka wujudkan impian masa kecil mereka. Kini mereka mendirikan sebuah panti asuhan dan sekolah gratis untuk menampung anak-anak tuna wisma. Mendirikan rumah seribu malaikat. Rumah tempat malaikat- malaikat kecil tumbuh menjadi para penolong, menjadi genersi bangsa yang penuh cita-cita dan asa.

            Keindahan masa tua berpihak pada dua bidadari penuh asa itu. Kini kalimat “semua akan indah pada waktunya”, telah menjadi sebuah fakta.